Halloo!

Perkenalkan, Saya Eko Surya Winata!

Knowledge is Power

"Tulisan ini ngawur, sama kayak yang nulis" - Ayah

Tulisan Berbahaya!

"Maksudnya apa sih ini?" - Ibu

www.twitter.com/ekoswinata

Berteman dengan Eko Surya Winata di Twitter

Salam Kenal

Menulis Adalah Kerja untuk Keabadian!

Tampilkan postingan dengan label Tulisan Serius untuk Tidak Serius. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Serius untuk Tidak Serius. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Mei 2018

KARMA: MISTISISME & MEDIA





Televisi punya keajaiban kecil yang ganjil. Ia mengambil konseling dari ruang privat yang personal. Lalu membuatnya menjadi hysteria massal, lengkap dengan bumbu alam ghaib. Kemudian memberinya judul Karma.  Banyak remah-remah sungsang yang bisa digali dari reality show “Karma” milik ANTV ini. Dari miskinnya kreativitas para kreator, sampai harus membeli format tayangan TV Thailand (program Secret of Number’s di Thailand), hingga adegan dramatis yang terlalu dramatis hingga kerap dituduh sebagai “settingan”. Namun demikan, tulisan ini tidak membahas mengenai Orisinalitas atau Otentisitas. Karma adalah pewaris sah dari tradisi panjang perkawinan silang antara media dan mistisisme. Namun Kenapa acara semacam ini bisa terus mendapat tempat? Lalu, apa yang bekerja dibalik fenomena mistisisme di televisi?

KARMA
Duet maut Anak Indigo dan Host yang populer di televisi ini setia mempertontonkan tiap detik karma buruk yang diderita manusia selepas jam tonton anak.

“Apakah Guna-guna?”…………….. ……………..*Jreng  (sound effect)
“KDRT”?................................................................*Jrung (sound effect)
“atau Diteror Sosok Makhluk Ghaib?”………… * Eaaa  (sound effect)
-Robby Purba (host) pada salah satu episode Karma di ANTV-

Dalam setiap episode, Roy Kiyoshi (sang Anak Indigo) akan mengamalkan “Endusan” supratanaturalnya dan memilih satu nomor yang merupakan tanggal lahir seorang peserta.

“Sembilan” *jengjengjeng….. (sound effect)
-Roy Kiyoshi (sang Anak Indigo)
Kemudian sang peserta akan menceritakan keluh kesah hidupnya. Layaknya dokter segala ilmu, kemudia Roy akan menjatuhkan vonis tentang masalah-masalah tersebut

“Rasa sakit saya tuh masih ada semenjak dia selingkuh….”
“Kadang emang kurang percaya diri yah….”
-Salah seorang peserta menceritakan keluh-kesah hidupnya-

Apakah keluhan tersebut disebabkan hal duniawi atau ghaib? Karma buruk apa yang menimpanya? Hingga apa yang mesti dilakukan untuk mengobati penderitaan itu? Semua akan dijelaskan oleh Roy Kiyoshi. Tiap episode tayangan ini penuh dengan aksi nyentrik si anak Indigo tersebut. Mulai dari “Muntah Darah”, “Lampu studio yang mati setelah kesaksian penyembah Dajjal”, hingga “peserta yang menjomblo karena berjodoh dengan jin LGBT”. Menariknya absurditas yang sudah cukup purba ini adalah fenomena yang relatif baru dalam sejarah pertelvisian kita.

Fenomena larisnya mistisisme dalam dunia pertelevisian sebenarnya berawal pada era Orde Baru, dimana pada saat itu genre horror berkembang pesat di Indonesia, tonggaknya yaitu dimulai dari “meledaknya” film Ratu Ular (1972). Film-film ini bereksperimen dengan berbagai macam formula dengan menyelipkan adegan panas sebagai pemanis tambahan ataupun komik (seperti pada komik “Siksa Neraka” yang sempat laris manis*).

Menanggapi film horror yang menjamur, Dewan Film Nasional menerbitkan “Kode Etik Badan Sensor Film” pada tahun 1980. Kode etik ini mewajibkan penyertaan sosok protagonist religious sebagai pahlawan yang akan menjadi penyelamat dalam film horror. Dampaknya adalah genre horror di Indonesia dikuasai oleh satu narasi yang sama, yaitu “Baik vs Buruk” atau lebih tepatnya “Kyai vs Setan”. Pada era ini, televisi relatif bersih dari tayangan mistis, karena pada saat itu hanya ada satu stasiun televisi yakni TVRI yang dikontrol dengan ketat oleh Negara.

Pada akhir Orde Baru, mistisisme mulai muncul di televisi seiring dengan tumbuhnya stasiun televisi swasta. Sebut saja, misal “Si Manis Jembatan Ancol”, “Jin dan Jun”, atau “Tuyul dan Mbak Yul”. Tayangan-tayangan mistis ini pun kerap digugat oleh publik, “Si Manis Jembatan Ancol”, misalnya digugat karena tidak menampilkan pesan dan sosok religious. Sedangkan, “Jin dan Jun” atau “Tuyul dan Mbak Yul” digugat karena menggambarkan sosok makhluk astral dengan karakter ramah & baik hati. Secara keseluruhan, publik juga menggugat tayangan mistis, karena dianggap menjauhkan Agama, & Realitas. Seiring dengan lengsernya Orde Baru, Kode Etik Badan Legislasi Film juga turut lengser dari perhatian media. Mistisisme semakin menjamur dan hadir dalam berbagai bentuk, dari Infotainment seperti “Kismis” & “Silet” hingga Reality Show semacam “Dunia Lain” & “Mister Tukul Jalan-Jalan”.

Van Hereen dalam buku Contemporary Indonesian Film: Spirits of Reform and Ghosts from the Past menjelaskan adanya 2 (dua) perubahan signifikan yang terjadi pada tayangan mistisisme setelah reformasi, yaitu:
1.    Khalayak,
a)    Pada masa Orde Baru, tayangan mistisisme seakan menyasar khalayak yang Spesifik, yaitu masyarakat Kelas Bawah. Hal ini disimpulkan berdasarkan latar dan penokohan yang dekat dengan kalangan kelas bawah.
b)    Setelah Reformasi, tayangan mistisisme menyasar lapisan kelas lainnya. Dengan latar yang bergeser ke perkotaan, narasi yang tidak lagi memerlukan sosok religious, dan ditayangkan di bioskop mewah.

2.    Representasi
a) Pada masa Orde Baru, Mistisisme ditayangkan melalui sinetron dan kisah fiksi
b) Setelah Reformasi, Mistisisme tayang dalam format “Reality Show”. Sebagaimana nama genre-nya, Reality Show mendobrak horror dan mistisisme era Orde Baru yang sekedar “fiksi”. Sekedar “karangan” menjadi sesuatu yang “nyata”. Perubahan tren ini seakan mengatakan bahwa mistisisme merupakan suatu bagian yang tak hisa dilepaskan dari realitas kehidupan masyarakat Indonesia.

“Karma” membawa mistisisme satu langkah lagi lebih jauh, yaitu dengan meruntuhkan sekat-sekat kepercayaan Khalayak. Sebelum “Karma”, mistisisme kerap dibingkai dalam sudut pandang adat istiadat seperti “kejawen” ataupun “agama”. Karma menawarkan mistisisme yang beragam, alam ghaib versi “Karma” adalah alam ghaib yang Multikutural, lintas keyakinan, dan lintas Ilmu. “Karma” dapat membingkai mistisisme melalu perspektif Kejawen, Islam, Psikiatri, atau Okultisme ala Hollywood dan Pseudo-Sains ala New Age. Segala perspektif tadi dikemas dengan formula pasca-produksi yang sama dengan sinetron, mulai dari “sound effect yang mencekam” hingga “close-up di adegan yang menegangkan. Bahkan, terkadang kisah peserta sama absurdnya dengan sinetron, sehingga tidak heran jika ANTV menayangkan “Karma The Series” sebagai adaptasi kisah peserta dalam bentuk FTV.

Mistisisme seringkali menjadi sumber ketakutan, entah karena anda itu percaya pada makhluk ghaib atau karena anda takut kepercayaan itu akan merusak generasi muda.
Namun, apapun sikap anda terhadap mistisisme, bentuk dan cara pandang kita terhadap dunia mistis selalu berubah. Dari kepercayaan tentang arwah demit dan arwah leluhur dalam kearifan lokal, Jin dan Khadam dalam agama Islam, hingga makhluk astral dan frekuensi elektromagnetik dalam sains gadungan Parapsikologi. Setiap sistem kepercayaann ini pernah hilir-mudik dalam pertelivisian kita, timbul-tenggelam tergantung pada seberapa besar rating yang ia hasilkan.

Wacana ghaib pun seringkali punya irisan dengan gejolak sosial politik yang terjadi dalam dunia manusia. Mulai dari maraknya jin LGBT seiring dengan naiknya isu LGBT di media (Simak salah satu episode Ruqyah di Trans 7), hingga munculnya hantu Komunis bersamaan dengan isu pelanggaran HAM pada 1965 (Simak episode Mister Tukul Jalan-Jalan di Trans 7)

Barangkali misteri dan ketakutan ini bukan berasal dari makhluk halus atau imajinasi tentang dampak sosial yang ia bawa, melainkan dari sesuatu yang sepenuhnya lain. Dunia yang kita tinggali sangat lah kompleks. Kesemerautan yang sukar untuk dipahami, dan selalu berubah. Kita seringkali dibuat tidak percaya dengan hasrat orang untuk mengeruk profit sambal mengesampingkan segala hal lainnya. Atau perilaku orang yang sama sekali asing dan berbeda dari nilai-nilai yang kita pegang teguh. Betapa pun kita berusaha, kita tidak punya kendali penuh atas dunia kita. Selalu ada sesuatu yang mengganggu, yang tidak terduga.

Mitos dan mistisisme memberi nama dan bentuk pada kekacauan ini dan membuatnya bisa dipahami. Dengan demikian, mistisisme bukan sekedar karangan atau takhayul buta, meski tak bisa dianggap sebagai kenyataan sepenuhnya. Ia adalah cermin bagi pengalaman kita dengan dunia dan membuat kita merasa memiliki kendali atas dunia. Misal, “Bahwa Ruqyah bias mengusir jin LGBT” atau “Bertindak baik bisa mendatangkan karma baik”.

Kita tidak takut pada setan atau jin, mereka justru menyelamatkan kita. Tanpa Mistisisme atau kepercayaan pada hal lain seperti agama atau sains, dunia jadi tidak bisa dipahami. Dan manusia takut pada hal-hal yang tidak bisa dipahami, karena itu juga berarti bahwa ita tidak punya kendali. Namun, dengan begitu banyaknya penjelasan tentang dunia, baik melalui mistisisme, agama ataupun sains yang berkeliaran di media (termasuk yang sedang anda baca), apakah anda benar-benar memiliki kendali? Atau justru sebaliknya?


Selasa, 03 September 2013

Charlie Chaplin dan Film The Modern Times

The Modern Times
• Produksi                     : United Artists
• Durasi                         : 87 menit • Tahun Pembuatan  : 1936
• Negara                        : Amerika Serikat
• Sutradara                   : Charles Chaplin
• Produser                    : Charles Chaplin
• Penulis skenario      : Charles Chaplin
• Penata Kamera        : Rollie Totheroh, Ira Morgan
• Editor                          : Williard Nico
• Charlie Chaplin         : Pekerja Pabrik (The Tramp)
• Paulette Goddard     : Gamine (Ellen Peterson)
• Henry Bergman         : Pemilik Café
• Chester Conklin        : Montir
• Stanley Sandford     : Big Bill
• Hank Mann                : Perampok
• Stanley Blystone      : Ayah Gamine
• Al Ernest Garcia       : Presiden Electro Steel Corp.
Film ini mengisahkan semua akibat dari revolusi industri ini dengan sangat baik. Penyampaiannya pun juga ringan dan penuh humor. Meski begitu film ini sangat jelas menggambarkan situasi Amerika Serikat dimana pada kurun waktu 1930-an masih terkena imbas dari Revolusi Industri, pada saat itu di mana banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan, rela mengantri demi mendapatkan pekerjaan, rela mencuri, demo besar-besaran dari kalangan buruh, dan betapa kacau balaunya suatu sistem mesin apabila mengalami sedikit gangguan saja. Kondisi yang kian kacau akibat penggantian tenaga manusia oleh tenaga mesin ini membuat jumlah pengangguran semakin meningkat diiringi dengan jumlah kelaparan dan kejahatan. Inilah kritik keras Charlie Chaplin yang dituangkannya dalam Modern Times. Film tersebut dibuka dengan tulisan, “A story of industry, of individual enterprise—humanity crusading in the pursuit of happiness (Sebuah kisah tentang industry, tentang perusahaan individual—perang suci kemanusiaan untuk mencari kebahagiaan).
Keberadaan film Modern Times sangat menarik untuk ditelaah lebih jauh, terlebih lagi menggunakan analisa teori film marxist, karena film ini muncul di era situasi politik dan ekonomi dunia sedang tidak stabil; imbas dari revolusi industri yang juga mempengaruhi situasi politik dimana pertentangan antara kaum liberal dan komunis mulai memanas, diiringi oleh tumbuh berkembangannya faham komunis pasca revolusi Bolshevik di Russia dan menjelang menguatnya kubu-kubu imperialis fasis seperti Nazi, Jepang, fasis Italia dan fasis Inggris.
PLOT
Sebelum memasuki ranah yang lebih jauh, ada baiknya mengulas sedikit tentang alur cerita dalam film Modern Times ini. Fiilm ini merupakan salah satu film yang menyemarakan film dengan jenis komedi yang disajikan secara tragika, yang sebelumnya ada Buster Keaton yang lebih dahulu memulainya. Film Modern Times dengan cerdas menyoroti kehidupan Amerika (dan dunia) pada masa awal abad 20 yang saat itu yang masih terkena imbas dari Revolusi Industri. Sebagian film ini bersuara, namun sisanya adalah bisu namun dihiasi musik. Film ini di awali dengan aktivitas di sebuah perusahaan Electro Steel Corp. Kita akan melihat buruh-buruh yang bekerja. Kita seperti disuguhkan dengan sebuah analogi tentang manusia yang tak jauh beda dengan jenis hewan-hewan pekerja, seperti lebah, rayap atau semut, yang pada saat itu terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja.
Setelah sedikit pengenalan terhadap suatu pabrik, Electro Steel Corp. yang serba mesin, kita diperkenalkan pada seorang pekerja pabrik yang bertugas mengencangkan baut yang bernama Tramp (Charles “Charlie” Chaplin). Tramp dan para pekerja lainnya tenggelam dalam rutinitasnya dan diharuskan bekerja tanpa henti kecuali untuk makan siang. Sempat dalam sebuah adegan, Tramp diam-diam bersembunyi di toilet untuk beristirahat dan merokok, tetapi kemudian dia mendapatkan teguran dari Direktur Electro Steel Corp. lewat layar pemantau.
Secara psikologis, rutinitas pekerjaan Tramp sebagai pengencang baut tersebut mempengaruhi memori dalam otaknya. Kegiatan yang berulang-ulang tersebut mempengaruhi saraf motoriknya untuk melakukan gerakan mengencangkan baut, walau Tramp sendiri tidak dalam kondisi bekerja. Apapun yang dia temukan berbentuk baut, akan dia kencangkan dengan kunci inggrisnya.
Electro Steel Corp., perusahaan yang selalu ingin segala sesuatu yang terjadi di pabrik tersebut, baik aktifitas produksi dan hasil produksinya efesien dan terukur, mulai memikirkan agar waktu makan siang dipotong untuk menghasilkan waktu yang lebih efisien dan dapat digunakan semaksimal untuk bekerja. Kemudian datanglah beberapa salesman yang menawarkan rancangan “modern” feeding machine alias mesin pemberi makan modern. Dalam demonstrasi penggunaan “modern” feeding machine, ditunjuklah Tramp menjadi kelinci percobaan mesin tersebut yang akhirnya gagal dan menyebabkan Tramp yang telah lama memendam stress akibat rutinitasnya “meledak” dan mengacaukan seisi pabrik, salah satunya dengan masuk ke roda gerigi penggerak mesin-mesin pabrik. Hasilnya, Tramp pun dikirim ke rumah sakit jiwa.
Di luar kisah Tramp sendiri, diceritakan pula situasi masyarakat di luar rumah sakit jiwa, dimana terjadi gejolak besar dalam kehidupan masyarakat, banyak pabrik yang tutup dan pengangguran bertambah. Setelah dirawat untuk beberapa waktu dan dinyatakan sembuh, Tramp keluar dari rumah sakit jiwa. Tramp sendiri tidak menyadari bahwa sedang terjadi gejolak sosial di masyarakat, dimana sedang terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh kaum buruh. Pada saat dia berjalan di sebuah sudut kota dan melihat sebuah bendera merah yang jatuh dari sebuah truk pengangkut barang, kemudian Tramp mengambil bendera tersebut, dan berusaha untuk mengejar truk tersebut. Pada saat dia mengejar truk tersebut, tanpa disadari dari belakang dirinya muncul segerombolan buruh yang tengah berdemonstrasi, sehingga terjadi kesalahpahaman, Tramp oleh polisi dituduh sebagai pemimpin demonstrasi dan akhirnya dikirim ke penjara. Di dalam penjara, Tramp mendapatkan tekanan yang sama, hidup dalam sebuah sistem yang diatur oleh kepala penjara dan para sipir. Hingga pada saat jam makan, terjadi inspeksi mendadak dari intelejen, bahwa ada seseorang yang diduga kuat sebagai pengedar kokain di penjara, dan tersangka pengedar tersebut tepat duduk di samping Tramp. Merasa terancam, si Pengedar menuangkan kokain tersebut ke dalam tempat garam. Dan kemudian tanpa sengaja Tramp memakan kokain, yang ia kira itu adalah garam. Setelah memakan kokain, ia mengigau hingga jam makan selesai dan akan kembali ke sel. Pada saat semua kembali ke sel, karena dibawah pengaruh kokain, Tramp justru tertinggal di halaman depan selnya, dan pada waktu yang bersamaan terjadi insiden dari segerombolan penjahat yang melakukan pembajakan terhadap kepala penjara dan beberapa sipir. Para penjahat tersebut ingin membebaskan seorang narapidana yang kebetulan satu kamar sel dengan Tramp. Masih dibawah pengaruh kokain, Tramp tanpa sengaja berhasil menaklukan penjahat yang berusaha melarikan diri dengan menyandera para polisi, sehingga dia dianggap sebagai pahlawan dan dibebaskan.
Suatu peristiwa yang melibatkan keluguannya malah menjadikannya pahlawan dalam penjara dan membuatnya akrab dengan para sipir penjara, hidup enak dengan segala fasilitas menyenangkan di selnya sehingga membuatnya betah.
Saat ia keluar dari penjara, pabrik tempatnya dulu bekerja telah tutup dan saat mencari kerja ia tak bisa beradaptasi sehingga banyak membuat masalah yang tak disengaja dan membuatnya tak mendapatkan pekerjaan. Ia pun memutuskan untuk kembali ke penjara karena merasa lebih nyaman. Di tempat lain, seorang gadis cantik namun melarat bernama Ellen Peterson (Paulette Goddard) yang cerdik dan berayahkan seorang pengangguran menjadi yatim piatu karena sang ayah tewas dalam suatu insiden melarikan diri dari orang pemerintah yang ingin mengambil dirinya dan adik-adiknya. Karena lapar, ia mencuri roti namun tertangkap dan bertemu Tramp di jalan yang mengaku sebagai pencurinya, namun gagal karena adanya saksi.
Ellen Peterson kemudian bertemu lagi dengan Tramp yang berulah agar ditangkap polisi di mobil patroli dan merekapun kabur. Keduanya saling jatuh cinta dan membayangkan punya rumah sendiri. Tramp pun berinisiatif untuk menyenangkan Ellen Peterson dengan bekerja sebagai penjaga malam sebuah department store dan mengadakan pesta dengan Ellen Peterson pada malamnya. Saat Ellen Peterson tidur, Tramp bertemu kawanan pencuri yang salah satunya adalah rekannya di pabrik yang terpaksa menjadi pencuri karena kelaparan. Mereka pun berpesta dan esoknya Tramp ditemukan ditumpukan kain dagangan dalam keadaan mabuk yang lagi-lagi membuatnya dikirim ke penjara.
Ellen Peterson setia menunggu dan saat Tramp keluar dari penjara sepuluh hari kemudian, Ellen Peterson memberinya kejutan dengan memberitahukan bahwa Ellen Peterson telah mendapatkan rumah, tepatnya sebuah gubuk dipinggir pelabuhan. Ellen Peterson berkata ini rumah yang mereka impikan walaupun tidak semewah istana Buckingham. Merekapun tinggal dengan penuh sukacita.
Keesokan paginya, Tramp mendapat pekerjaan di sebuah pabrik yang baru buka. Namun ketika dia sibuk mengeluarkan bos nya yang terjebak di dalam mesin, para buruh lainnya memutuskan untuk berdemonstrasi. Secara tidak sengaja Tramp membuat ulah yang menyebabkan sebuah batu bata melayang ke kepala seorang polisi, Tramp ditangkap lagi.
Dua minggu kemudian, Tramp dibebaskan. Sementara itu Ellen Peterson mendapat pekerjaan sebagai penari di sebuah cafe. Ellen Peterson berusaha memberi pekerjaan kepada Tramp sebagai seorang penyanyi. Ketika pertunjukkan, Tramp lupa dengan lirik lagu yang akan dinyanyikan dan membuat sebuah contekan yang dibuat di pergelangan tangan. Namun pada saat pertujukan, tanpa ia sadari contekan dipergelangan tangan tersebut terlepas. Namun, Tramp terselamatkan dengan improvisasinya melalui lirik jenaka dan pantomime.
Tidak lama kemudian polisi datang ingin menangkap Ellen Peterson karena menggapnya sebagai buronan kepolisian. Tetapi Ellen Peterson lolos lagi dengan dibantu oleh Tramp. Akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan kota tersebut dengan harapan yang lebih baik.
PENDEKATAN UMUM BERDASARKAN KONTEKS JAMAN
Aristoteles mengatakan bahwa komedi muncul karena rasa sakit. Rasa sakit dan sesuatu yang buruk tersebutlah yang patut untuk ditertawakan, bahkan terkadang kita menertawakan rasa sakit yang terjadi pada diri kita sendiri. Pilihan komedi satire (Sarkasme atau sindiran) inilah yang dipergunakan oleh Charles Chaplin dalam beberapa filmnya, terutama dalam film Modern Times untuk melakukan kritikan terhadap kapitalisme, tanggapan atas dampak revolusi industri di mana mesin – mesinlah yang memperbudak para pekerja pada masa Great Depression (jam kerja panjang dengan sedikit keselamatan bagi pekerjaan dan gaji yang sangat kecil, sedangkan kelas atas tetap kaya dan hanya menunggu hasil). Film Modern Times melawan arus di dalam Hollywood yang didominasi oleh film-film bergenre mellowdrama dan western yang sedang berkembang.
Dalam Communist Manifesto, Marx dan Engels menunjukkan bahwa akibat penggunaan mesin yang luas dan pembagian kerja, kerja proletariat telah kehilangan seluruh ciri individualitasnya, dan, sebagai akibatnya, pekerja hanya menjadi alat pembantu mesin, dan hanya paling sederhana, paling monoton, dan oleh karenanya hanya dibutuhkan ketrampilan yang paling mudah dipelajari. Oleh karena itu, biaya untuk menghasilkan seorang pekerja dibatasi, hampir seluruhnya, sampai di tingkat yang hanya cukup untuk membuatnya bertahan hidup. Tapi harga komoditi, dan demikian pula halnya dengan tenaga kerja, adalah sama dengan biaya produksinya. Maka, sebanding dengan semakin menjijikkannya pekerjaan itu, semakin turun pula tingkat upah. Lebih lagi, sebanding dengan meningkatnya penggunaan mesin dan pembagian kerja, meningkat pula beban kerja, baik melalui perpanjangan jam kerja, melalui peningkatan ragam pekerjaan yang dituntut dikerjakan dalam rentang waktu tertentu atau oleh peningkatan kecepatan kerja mesin, dan lain-lain.
Teknologi yang baru bukannya memperbaiki taraf kehidupan kaum buruh dalam industri, ia malah digunakan untuk memperburuk kondisi dari para buruh. Rasa tidak aman, tekanan yang tanpa henti atas sistem syaraf, stress yang sama, yang membawa masalah-masalah kesehatan dan depresi. Dampak yang jelas terjadi pada kondisi psikologis tokoh Tramp, dimana dia tanpa tidak terkontrol selalu melakukan hal-hal yang dia lakukan pada saat bekerja, walaupun dia dalam keadaan tidak melakukan pekerjaan itu. Dalam film Modern Times, kemiskinan dan hal-hal yang dianggap menjijikan, menjadi sesuatu yang lucu tapi tragis dan justru dengan bentuk inilah film ini berhasil menjadi film yang cukup populis di era-nya. Kehidupan masyarakat pada kelas sosial proletar telah begitu terepresi oleh sistem yang dibuat oleh kaum borjuis atau kapitalis, dan jumlah kaum proletar jauh lebih besar dari jumlah para borjuis tersebut. Hingga tingkat represi tersebut sudah menjadi hal yang kemudian dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima oleh kaum proletar. Sehingga nasib sial dan kemiskinan bagi mereka cukup ditanggapi dengan sesuatu hal yang menggelikan, walaupun bagi kaum proletar sendiri itu hal yang paling mengenaskan.
Bekerja dibawah tekanan dan ancaman pemutusan hubungan kerja merupakan hal yang dapat terjadi pada siapapun dan kapanpun. Bentuk pertunjukan komedi, termasuk film komedi kemudian menjadi pelarian untuk dapat dengan sejenak melepaskan kepenatan atas situasi yang kala tahun 1930-an terjadi. Bagi Charles Chaplin sendiri, kemiskinan dan nasib tidak beruntung bukan hal yang baru pada kehidupan dirinya. Pada saat kanak-kanak, kedua orang tuanya bercerai, dan dia tinggal bersama ibunya yang dikemudian hari pada saat Charles Chaplin berumur 12 tahun, ibunya menderita skizoprenia. Kemudian, Chaplin terpaksa tinggal di rumah penampungan orang miskin, bekerja untuk imbalan makan dan tempat berteduh di kawasan Lambeth, London. Setelah tinggal di sana beberapa minggu, Chaplin dimasukkan sekolah asrama penampungan anak terlantar bernama Central London District School di Hanwell. Selain situasi pabrik yang digambarkan oleh Charles Chaplin, beberapa adegan dalam film jelas menggambarkan situasi ideologi yang sedang bekerja dalam masyarakat Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 1930-an. Louis Althuser memberikan pendapat, pada tatanan ideologi yang berkembang pada masyarakat menurutnya bekerja dengan dua sisi; Represive State Apparatus, yang bersifat menekan secara langsung; Dan Ideological State Apparatus, yang bersifat menekan secara halus. Secara gamblang, Charles Chaplin memberikan bukti-bukti tentang masa film ini pada tingkat Represive State Apparatus, dimana pihak-pihak yang menghegemoni menekan pihak-pihak yang lemah pada posisi tertentu, seperti perusahaan yang merepresi para buruh yang bekerja, serta aparat hukum yang merepresi para demonstran dan tahanan. Namun dengan cara tersebut, Charles Chaplin Nampak sadar bahwa film ini merupakan sebuah kerja untuk merepresi dengan cara halus kepada penonton, terutama melalui unsur komedi, dengan mengatakan bahwa sistem yang dibuat oleh kaum kapitalis sangat tidak bersahabat, tetapi sebagai kaum proletar harus tetap optimis untuk menghadapi sistem tersebut. Hal tersebut tampak pada adegan akhir film dimana tokoh Tramp dan Ellen Peterson berjalan dengan senyumnya menuju jalan yang tampak jauh di depan mereka.
Struktur naratif dalam film ini berjalan dengan prinsip-prinsip struktur Sinema Hollywood Klasik, yaitu bekerja dengan klausalitas yang jelas. Namun, Charles Chaplin mencoba mengembangkan teori ideologi Louis Althuser dengan memecah plot awal film menjadi dua sub-plot besar, yaitu kisah Tramp dan Ellen Peterson yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan yang berjalan pada satu plot yang sama.
PENDEKATAN LEWAT GAYA (STILISTIK) SEBAGAI PROTES ATAS JAMANNYA
Modern Times, dengan gaya tertentu Charles Chaplin memuntahkan semua kegelisahan terhadap jamannya. Tata kamera yang sederhana merupakan bentuk pilihan tepat, memberikan ruang dan waktu kepada penonton untuk mencermati setting dan properti serta kekuatan gestur tokoh Tramp yang dimainkan oleh Charles Chaplin. Baik penggunaan tata kamera dan artistik dalam film ini menggunakan pendekatan cinematic realism, dimana konvensi atas semua kode fiksi yang diterapkan pada stilistik merupakan konvensi yang terpengaruh pada era 1930-an. Semua tampak seperti realitasnya, walaupun dalam beberapa bagian film mengingatkan kita pada film-film German Expressionism, tampak pada setting yang dilebih-lebihkan pada adegan Tramp yang terjebak dalam sebuah putaran roda gerigi penggerak mesin. Tapi konvensi realisme di era 1930-an masih dipertahankan, penggunaan gaya German Expressionism ini menguatkan imaji penonton terhadap tertindasnya manusia (kaum buruh) oleh mesin-mesin yang dipergunakan kaum kapitalis sebagai akibat dari dampak revolusi industri. Teknik pengekangan yang berlebihan (Super impose Technic) digunakan dalam sebuah setting pabrik, yaitu layar monitor yang terhubung antara presiden Electro Steel Corp. ke setiap sudut bagian pabrik. Berfungsi untuk mengontrol setiap kinerja mesin dan kerja para buruh. Sebuah bentuk Represive State Apparatus yang diciptakan langsung sebagai bagian dari cerita film Modern Times, yang merupakan sindiran kasar terhadap kapitalisme yang bagi sebagian buruh dinilai cukup mengganggu. Tidak ada lagi kebebasan secara individual untuk menikmati hidup. Tak luput pula, sosok Tramp yang diciptakan oleh Charles Chaplin merupakan sinikal dari sistem kapitalisme yang sedang berkembang serta tumbuhnya semangat fasisme dibeberapa wilayah dunia. Sosok Tramp merupakan perwujudan dari kaum proletar yang mencoba untuk membunuh kelasnya sendiri. Kemiskinan yang Tramp alami, ditutup-tutupi dengan kostum yang biasa digunakan oleh kaum borjuis, berdandan rapi, dengan jas, dasi dan topi, sehingga tampak seolah-olah menjadi seorang bangsawan. Walau bagaimanapun, setiap aksi dan perilaku yang Tramp lakukan masih menampilkan sosok kaum kelas bawah. Perilaku yang kampungan dan kebodohan-kebodohan orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Kumis yang menjadi ciri khas Tramp sendiri merupakan sindiran terhadap fasisme Hitler yang mulai muncul pada pertengahan tahun 1930-an. Dan akibatnya, film-film Charlie Chaplin sempat diboikot masuk ke wilayah Jerman.
Film Modern Times merupakan film pertama Charles Chaplin yang memperkenalkan secara langsung suara Charlie Chaplin. Musik pun Charles Chaplin garap sendiri, masih dengan instrumen yang serius tetapi dalam beberapa bagian memainkan pola harmoni yang bersifat komikal. Pada saat film-film dengan suara muncul, Charles Chaplin masih dengan setia untuk tidak menggunakan dialog. Karena Charles Chaplin percaya bahwa kekuatan sebuah film ada pada gambar, setting dan akting. Hanya pada beberapa bagian saja Charles Chaplin menempelkan suara dialog, yaitu pada bagian layar monitor dari presiden Electro Steel Corp. itupun dengan alasan untuk menguatkan fungsi reperesif yang dialami kaum buruh pada cerita film Modern Times.

Minggu, 17 Februari 2013

Kita? Masyarakat? Negara? Nasi?

Kita dihidupkan di dalam masyarakat dimana tukang pizza datang lebih cepat ketimbang polisi. Dimana ketika kita melakukan sesuatu, kita juga harus melakukan sesuatu yang lain. Sama halnya seperti ketika kita buang air, kita juga harus membuang air yang lain. Ketika kecil banyak bicara dipuji-puji, saat sudah besar banyak bicara malah dimaki-maki. Dan uang sebagai alat pembayaran yang sah, memaksa kita untuk mencarinya, meski padahal kita tidak pernah merasa kehilangannya

Bumi ini memiliki air yang dari dulu volumenya tetap, tidak bertambah dan berkurang. Tapi bukan menjadi penyebab kita terbiasa membeli air untuk dibuang dan menjadi terbiasa salah menyikapi banjir.  Kehidupan di bumi ini pun menyimpan banyak pertanyaan, seperti "Kenapa dinasaorus tidak ikut masuk ke dalam kapal nabi nuh, sehingga ia tidak punah karena banjir besar?"

Di tempat ini kita tumbuh besar, menjadi orang kuat. Saking kuatnya, kita hampir tidak pernah menangis, mungkin karena telah habis air mata. Acara-acara Televisi menjanjikan hiburan, agar masyarakat tidak stres menjalankan rumitnya modernisasi. Ternyata di sana ada sinetron yang belum juga tamat, karena ada banyak penonton yang menunggu tamat dengan cara terus mengikuti sinetron tersebut. Selain itu, di sana terdapat berita kecelakaan lalu lintas, kasus pembunuhan, korupsi pekerja negara. Adapun janji-janji calon wakil rakyat yang kelak suatu saat jika terpilih, mereka akan meminggirkan kita di jalan, baik macet ataupun tidak. Hahah.. Ada-ada saja, biasanya wakil tuh pengen naik jabatan, contoh wakil kepala sekolah ingin naik jadi kepala sekolah, wakil ketua kelas ingin naik jadi ketua kelas, tapi cuma wakil rakyat yang tidak ingin naik pangkat jadi rakyat. Ada juga acara-acara yang menyediakan tempat bagi seseorang yang ingin populer, di sana terdapat anak muda yang terlihat tua lebih lama dan orang tua yang ingin terlihat seperti anak muda. HAH! nampaknya ini hiburan yang mematikan, kepalaku ingin pecah melihatnya....

Tidakkah kau berpikir tempat ini adalah tanah airmu, namun tanah dan sawahmu digusur orang. Di sanalah kamu berdiri, tanpa sandang, pangan, dan papan. Sempatkah tersirat bahwa tempat ini juga adalah tumpah darahmu, namun kekayaanmu adalah juga milik negara. Kepadanya kau harus berbakti, apa kau pernah berpikir untuk pilih sibuk mencari nasi?

Selasa, 05 Februari 2013

Anekdot dari Niels Bohr

Siapa yang ga tau Niels Bohr? Fisikawan yang telah menggambarkan ke kita bahwa atom tersusun dari inti atom (nukleus) yang dikelilingi oleh orbit elektron. Bohr menerapkan konsep mekanika kuantum untuk model atom yang telah dikembangkan oleh Ernest Rutherford tersebut. Namun, aku ga akan membahas teori fisikanya, melainkan bercerita hal lain dari si Bohr.
Fisikawan kelahiran Denmark, 7 Oktober 1855 itu pernah mengeluarkan anekdot yang keren menurut saya  (kalo ga keren jg gapapa sih). Oleh sebab itu, aku akan menceritakan anekdot tersebut. Semoga bermanfaat, bila tidak, maka manfaatkanlah. Jadi, begini kurang-lebih ankedotnya:

Suatu hari seorang anak perempuan (sebut saja Bunga), disuruh oleh ibunya.
Sang ibu berkata: "Bunga! Matikan televisinya!"
Bungapun menjawab: "Iya, bu" bergegas dia melaksanakan perintah ibu
Berteriak lagi ibunya: "Bunga! Cuci bajunya!"
"Baik, ibu" Sahut Bunga
"Beli sayuran sana kepasar!" Ibu memerintah beberapa waktu kemudian
"Siap ibu!" Bunga menyaut dan menjalankan perintah ibu

"Bunga!"
"Apa bu"
"Jangan jadi anak penurut!"
"Iya, baik bu"

Selasa, 29 Januari 2013

Ulama dan Singa

Suatu hari terdapat seorang ulama yang tengah tersesat di hutan.
Hutan itu begitu gelap, saking gelapnya tak ada satupun celah bagi cahaya untuk dapat menembus ke dalam hutan.
Di sekeliling hutan hanya terlihat pohon-pohon rindang dan suara-suara hewan liar.

Di dalam hutan, sang ulama berjalan sambil memendam rasa takut.
Ia mencoba mencari cahaya matahari guna mendapati arah jalan keluar.
Sial tak dapat dicegah, sang ulama bertemu seekor singa di tengah hutan.
Sang singa melihatnya dan berlari kencang ke arahnya.
Sang ulamapun panik dan berlari.
Terjadilah adegan kejar-kejaran antara ulama dan singa.

Begitulah kerennya manusia, kalo terdesak ia mampu melakukan sesuatu yang sebelumnya dianggap itu tidak dapat dilakukan.
Buktinya, sang ulama mampu berlari kencang dan mendapati cahaya matahari.
Dan akhirnya ia mampu keluar dari hutan.
Sesaat ia keluar dari hutan ternyata ia menuju jurang.
Sontak sang ulama pun berhenti berlari, begitupun sang singa.

Sang ulama menghadap ke belakang dan memohon kepada singa agar tidak memakannya.
Sang singa yang lapar sudah memandangnya dengan perut yang berbunyi "kriuk..kriuk" tanda lapar.
Lalu sang ulama menutup mata, berdoa kepada Allah meminta agar si singa tidak memakannya.
Lalu apa yang dilakukan singa saat sang ulama tersebut membuka mata sehabis berdoa?
Sang singa juga sedang berdoa, doa untuk makan.

Selasa, 03 April 2012

Hah, Eksistensialisme? Manusia Pusat Dunia?

Sedikit berkicau tentang eksistensialisme yang merupakan corak filsafat anti-kodrat dan menempatkan manusia sebagai pusat dunianya.


Eksistensialisme manusia dari keberadaannya bukan dari esensinya. Manusia kongkret dan ada di sana, di dunia.

Manusia terlempar di dunia: Keberadaannya di dunia bukan atas pilihannya. Setiap orang sudah menanggung keberadaannya sejak lahir (gen tertentu, keluarga, masyarakat, kondisi alam, dsb).

Paradoks keberadaan manusia: Keberadaan yang bukan pilihannya menjadi tanggung jawabnya. Manusia jatuh dalam masyarakat dan kehidupan sosial. Keberadaan manusia adalah keberadaan dalam dunia, bersama manusia lain. Dunia manusia adalah dunia bersama. Tiga jenis Dunia: Umwelt (dunia fisikal; alam), mitwelt (dunia bersama manusia lain) dan eigenwelt (dunia pribadi).

Setiap manusia adalah subjek: unik dan tak dapat diperbandingkan. Manusia tidak dapat dipahami dari esensinya. Manusia hanya dapat dipahami dari eksistensinya; dari keberadaannya di dunia bersama manusia lain.


Sartre: "Eksistensi mendahului esensi. Selama masih hidup, manusia tidak dapat didefinisikan karena masih berkembang dan belum jelas batasnya"


Jaspers: "Keberadaan manusia lain adalah penegasan kebebasan kita dan hubungan intersubjektif mungkin terjadi"


Sartre: "Neraka adalah orang lain. Keberadaan manusia lain adalah awal kejatuhan eksistensiku sebagai subjek"


Kierkeegard: "Tuhan adalah dasar dan penjamin eksistensi manusia; penjamin kebebasan"


Nietzsche: "Tuhan sudah mati. Manusia membunuhnya. Kematian tuhan menyebabkan manusia harus menentukan nilainya sendiri"


Nietzsche: "Untuk bisa menjadi pencipta, manusia harus jadi penghancur, juga menghancurkan tuhan sebagai nilai moral dasar"


Berdyaev: "Kebebasan tanpa syarat dan tanpa kompromi adalah kebebasan dalam Tuhan. Kebebasan baru bermakna jika dihadapkan pada imperatif (keharusan) di hadapan manusia-manusia lain yang juga bebas. Pandangan dunia manusia berbeda-beda; setiap orang memiliki pandangan dunia masing-  masing yang unik. Esensi tidak dapat ditangkap; selalu terletak pada putusan subjek"


Kierkegaard: "Manusia pada dasarnya adalah pelaku  (doer) bukan penahu (knower). Filsafat jangan instruktif, melainkan harus terlibat dalam kehidupan. Hidup bukanlah sebagaimana yang kita pikirkan, melainkan sebagaimana yang kita hayati. Manusia yang konkret dan nyata adalah yang individual dan subyektif. Manusia adalah pengambil keputusan dalam eksistensinya"


Nietzsche: "Rayakanlah hidup! Cintai takdirmu! Terima apa yang terjadi, juga penderitaan dan rasa sakit, sebagai hal baik. Hidup adalah apa yang kita lakukan hingga saatnya kita mati"


Sartre: "Tak ada kenyataan kecuali dalam tindakan. Manusia dikutuk untuk bebas; karena sekali ia terlempar ke dunia, ia bertanggungjawab atas apa yang dilakukannya"



Eko Surya Winata: "Aku cinta kau itu urusanku, bagaimana kau padaku itu bukan urusanku"


Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 02 April 2012

Menolak Logosentrisme?

Dalam logos/langue mata intelek kita dikenai kacamata kuda agar mencapai kesimpulan atau rumus-rumus yg bermakna tunggal/ilmiah. Disiplin filsafat, ilmu maupun teologi saling berebutan posisi, mengklaim dirinya "kebenaran (tunggal)", makanya sikut-sikutan deh sampe skrg. Rumus atau kesimpulan ilmiah/filosofis yg bermakna tunggal itulah oleh filsuf Prancis, yaitu Derrida dinamakan "Logosentrisme". Logosentrisme pun membuat pikiran/mentalitas barat mendiskreditkan yg mereka bilang bukan barat, timur (tak punya logos = kebenaran).

Bahasa (logosentrisme) oleh Louis Althusser dilihat sebagai ideologi untuk jelaskan tentang cerita perjalanan kelas masyarakat. Dengan Althusser memasukkan bahasa ke dalam analisa sejarah sosial maka gerakan pemikiran kiri mulai membangun tradisi bahasa. Sama halnya pada kaum liberal, logosentrisme digunakan sebagai cerita tentang perjuangan kesadaran individual dan HAM. Baik kaum kiri maupun kanan sama-sama mengidap penyakit logosentrisme, klaim dirinya sebagai kebenaran tunggal/universalisme. Dengan istilah "logosentrisme" itulah Derrida menunjukkan penyakit arogansi pemikiran/filsafat barat!. "Logosentrisme" itu yg kemudian dibongkar oleh Derrida atau dgn istilah "dekonstruksi"!

Dekonstruksi melihat bahasa lebih pada makna perbedaan, jelas menolak hukum kacamata kuda yg melihat satu sama dengan kesamaan. Derrida menolak bahasa warisan aristotelian, pencipta logika, yg mencari makna/semantik sampai pada apa yg disebut "soul". Bagi Aristoteles makna bahasa bisa ditemukan pd ekspresi dari jiwa yg terwujud lewat kata-kata, yakni bahasa lisan. Menurut aristoteles bahasa lisan simbol dari jiwa, sementara bahasa tulisan simbol dari bahasa lisan, jd pentingnya bahasa pd lisannya. Sementara bagi Derrida bahasa lisan itu sebenarnya adalah bahasa tulisan, yg trlebih dulu menjejak di pikiran kita. Bagi Derrida tidak ada bahasa sebagai ekspresi murni, maka tidak ada subjek berbahasa (aku) yg bersifat metafisis sebgaimana pada Aristoteles itu. Ketika kita berbahasa seolah kita hadir langsung sebagai subjek pada teman atau lawan bicara, padahal tidak, ada makna yg tertunda dalam pembicaraan. Derrida mengedepankan perbedaan makna dari status kita berbahasa, jelas menolak logosentrisme. Dan memunculkan aliran poststrukturalis/postmodern.


" Dalam dunia makna jelas kita lepas dari konsep diri aku dan kamu sebagai dua yg berbeda dan saling mengobjek, relasi kita antar-subjek. Aku mengalami hidup bukan bagi dunia yang dideskripsikan namun dalam pengalaman2ku yg kuhayati sendiri scr eksistensial, kusadari sendiri" (Winata:69)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Minggu, 25 Maret 2012

Mary Wollstonecraft dan Feminisme

Tulisan ini aku ambil dari tweetku di http://www.twitter.com/@ekoswinata


Bagi Mary Wollstonecraft perempuan mendambakan cinta dari laki-laki idamannya, bermimpi hidup bahagia dalam pernikahan, kenapa? Karena hidupnya kosong!. Mengapa hidup perempuan itu kosong? Karena hak-haknya untuk mengisi-membahagiakan hidupnya dirampas ol laki-laki. Kenyataan dalam keluarga patriarki istri adalah pihak yg ditundukkan, dicabut hak pendidikan tinggi dan peran sosial, maka tidak ada cinta. Dalam keluarga patriarki  cinta datang dari agen aktif yg bernama laki-laki tapi kenyataannya energi itu adalah penaklukkan.

Curigailah kalo seorang laki-laki ngotot menyatakan cinta, karena baginya itu adalah energi penaklukkan. Dalam dunia patriarki adalah haram jika perempuan aktif menyatakan cinta dan sebagai agen aktif pula untuk memelihara pernikahan. Kalo Wollstonecraft  bilang hidup perempuan itu kosong dan berharap diisi oleh cinta laki-laki maka jelaslah itu pesan agar perempuan jangan iba-iba begitu. Mary Wollstonecraft adalah feminis inggris termasuk penggerak awal apa yg disebut feminisme, abad ke-18-19.


"Perkawinan paling oke kalo dibangun di atas relasi persahabatan dan saling hormat daripada cinta" (Mary Wollstonecraft)


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sindrom Misogyny!

Misogyny itu kebencian laki-laki terhadap perempuan karena dianggap perempuan biang kekacauan, kebiadaban, juga biang kejatuhan manusia ke dalam dosa. Misogyny hidup dari cerita-cerita rakyat, tentang nenek sihir/perempuan-perempuan jahat yg harus dibasmi, cerita-cerita yang dibuat oleh laki-laki untuk jatuhkan moral perempuan.

UU pornografi bisa dikatakan dibuat berdasarkan perspektif misogyny, tubuh perempuan harus diatur karena jika tidak sangat berbahaya bagi laki-laki

Sebenarnya munculnya Misogyny adalah kamuflase dari kelemahan laki2 sendiri yg sering tak mampu mengendalikan diri (nafsu), kemudian perempuan yang disalahkan. Misogyny subur sekali dlm ruang publik modern, kepemimpinan perempuan yg suka dinilai lembek, tak tahu apa-apa atau biang malapetaka, misalnya.

Misogyny itu suatu sikap penyangkalan laki-laki yang paling mandasar, bahwa ia lahir dari rahim, jelas dr tubuh perempuan. Penyangkalan laki-laki atas tubuh perempuan yang melahirkannya itu lalu dilanjutkan dengan upaya menguasai tubuh perempuan. Pemerkosaan atas perempuan jelas muncul dri sikap misogyny, tubuh perempuan sebagai pelampiasan kebencian campur nafsu laki-laki yang tidak terkendali. Serangan laki-laki atas tubuh perempuan dianggap hanyalah pelampiasan dendam bawah sadar yg perlu dimaklumkan - misogyny.


Berapa banyakkah dlm tiap hari perempuan korban pelecehan seksual, pemerkosaan, diskriminasi,dll di dunia? Itu adalah bagian dr praktek misogyny!

Kasus terdekat dari korban misogyny tak lain dalam rumah tangga, tentu jika ada laki-laki di dalamnya yg terjangkit oleh penyakit patriarki ini!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Rabu, 21 Maret 2012

Teknologi Memudahkan Manusia Mengontrol Segala Hal, Kecuali Teknologi Itu Sendiri

Teknologi pada awalnya adalah usaha untuk memudahkan manusia. Kemudian dari teknologi menjadikan manusia lebih punya banyak waktu merenung. Dengan teknologi, hidup manusia mestinya bisa diperdalam dan diperkaya. Waktu manusia tak sepenuhnya tersita hanya untuk bertahan hidup. Tetapi, manusia seringkali larut dalam teknologi, menggantungkan diri kepadanya. Dan teknologi melampaui kemanusiaan.

Kini, sepertinya teknologi memungkinkan manusia mengontrol sejuta hal, kecuali teknologi itu sendiri. Jika awalnya, "techne" bagian dari usaha untuk memahami dunia, kini tampaknya teknologi menjadi bagian dari usaha mengaburkan dunia. Teknologi ikut membentuk kesadaran akan dunia, yaitu kesadaran yang dibengkokan dari kenyataan. Itu terjadi sebab hidup diciutkan sebatas teknik. Teknologi dalam penghayatan manusia modern menjadi sihir yang seakan-akan dapat mewujudkan apapun yang diinginkan dalam waktu sekejap.

Kehausan akan teknologi berakar pada fetisisme komoditas; kecintaan akan komoditas yang irasional dan tak pernah terpuaskan. Bercinta dengan teknologi menjadi hal umum saat ini; relasi yang menempatkan manusia sebagai hamba penurut apapun yang ditawrkan teknologi. Teknologi adalah anak peradaban yang selalu bersaing dengan kebudayaan dalam mengarahkan hidup manusia. Peradaban adalah hasil usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan sebagai makhluk alamiah. Kebudayaan adalah hasil usaha manusia sebagai makhluk spiritual. Sebagai anak peradaban teknologi selalu membidik naluri manusia untuk mendapatkan kenikmatan dan menghindari ketakutan; melemahkan pikiran. Tentu saja tanpa peradaban dan teknologi, manusia terbelakang. Tapi menggantungkan diri sepenuhnya pada teknologi, manusia tak kemana-mana.

Pada awalnya teknologi meniru alam. Kini alam meniru teknologi. Tiruan melampaui aslinya. Alam terpuruk, kesadaran puas dipermukaan saja. Dulu pernah teknologi adalah perwujudan hasrat untuk menyempurnakan alam. Kini teknologi adalah hasrat memperburuk alam. Keyakinan akan teknologi seringkali berbanding terbalik dengan keyakinan akan nalar. Padahal teknologi adalah turunan nalar. Paradoks!

Netralkah teknologi? Atau sejak awal ia memihak hasrat berkuasa? Kini seakan-akan teknologi memiliki kehendak sendiri dan manusia takluk. Berbahagialah kita punya teknologi. Meski karenanya kita harus berjuang menepis sihirnya. Teknologi punya semua daya tarik untuk melenakan. Determinisme teknologi, meski seperti tak terhindarkan, harus selalu dilawan, bukan dengan phobia teknologi, tapi dengan setia pada hidup.


"Technology... Is a queer thing. It bring you great gifts with one hand, and it stabs you in the back with the other." - Carrie P. Snow


Published with Blogger-droid v2.0.4

Jumat, 02 Maret 2012

Berceloteh Sedikit Tentang Kesadaran


By: Eko Surya Winata


Istilah ‘Conscious’ dan ‘Consciousness’ diturunkan dari kata latin ‘Cum’ (Bersama Dengan) dan ‘Scire’ (Mengetahui). Dari asal katanya, istilah sadar dan kesadaran mengandung juga pengertian adanya keterarahan pada obyek tertentu. Sadar dalam arti mengetahui sesuatu mensyaratkan adanya obyek sebagai sesuatu yang diketahui; sadar terhadap obyek tertentu.

Tidak mungkin tanpa keterarahan terhadap obyeknya (Searle, 1983). Dalam terminologi fenomenologi, kesadaran selalu mengandung intentionality (keterarahan). Kesadaran tampil dalam bentuk gradasi, dimulai dari sadar sebagai satu keberadaan obyek lain hingga sadar akan keberadaan Diri sendiri. Setelah kesadaran terhadap diri sendiri terbentuk, baru dimulaikan kesadaran sebagai aku. Kesadaran sebagai aku meningkat, menyadari aku yang sedang menyadari obyek tertentu, dan masih dapat meningkat terus.

Seseorang dikatakan menyadari sesuatu saat ia punya pemikiran tentang sesuatu itu sebagai hal yang hadir, secara langsung atau sebagai citra di benak. Seseorang dapat memahami sesuatu itu tidak terindra olehnya pada saat itu. Seseorang dapat menyadari keadaan mental sadarnya yang menanggapi sesuatu tanpa disertai pengindraan. Manusia dapat memiliki pemikiran tentang benda-benda, mampu memikirkan hal tanpa harus bersentuhan dengan mereka. Kemampuan memikirkan benda tanpa bersentuhan langsung disebut ‘pikiran yang tingkatnya lebih tinggi’ (Higher Order Thoughts).

Higher order thoughts (HOT’s) merupakan second order thoughts dibanding pikiran pasif yang menerima informasi tanpa diolah. HOT’s tak selalu dan tak perlu sadar untuk dapat bekerja. Orang dapat menceritakan yang dialami meski tak sengaja mengingat kejadia itu. Seseorang dapat mengemudi mobil sambil ngobrol dan ia tetap dapat menyadari dirinya yang sedang mengemudi. HOT’s bekerja di situ. HOT’s dapat terjadi meski orang yang mengalaminya tidak menyadari ia sedang berpikir. HOT’s dapat disadari oleh orang yang mengalaminya, bahkan dapat dievaluasi sedemikian rupa. Agar sebuah HOT’s dapat disadari, orang harus memiliki sebuah tingkat kesadaran yang lebih tinggi lagi; introspeksi/ ‘third other thought’.

Introspeksi memungkinkan muncul “Self-Awarness” dan “Self-Consciousness”. Introspesksi merujuk pada kondisi seseorang yang sadar secara sengaja dan penuh perhatian akan keadaan mentalnya. Lebih jauh lagi, orang juga dapat menyadari introspeksi dan mengevaluasinya. Derajat kesadaran yang menyadari introspeksi lebih tinggi dari introspeksi dan dapat disadari juga oleh kesadaran yang lebih tinggi lagi. Semakin tinggi tingkat kesadaran seseorang semakin mampu ia mempertemukan berbagai kesadaran yang lebih rendah; semakin luas pemahamannya. Dengan kesadaran yang bertingkat, manusia menyadari keberadaannya di dunia bersama manusia lain dan hubungannya dengan yang lain.

Diri dihasilkan oleh kesadaran dan merupakan kumpulan kesadaran. Aktivitas diri adalah menyadari. Orang bisa tidak menyadari kesadarannya.


“An unconcious consciousness is no more a contradiction in terms than an unseen case of seeing” (Franz Ciemens Brentano)


Identitas diri adalah kesadaran pribadi sebagai “Aku adalah....”; suatu pendefinisian pribadi. Diri sebagai kesadaran pribadi memiliki properti mental yang mengarahkannya kepada obyek dan rangkaian peristiwa di luarnya. Kesadaran membuat masalah badan dan jiwa sulit untuk dipecahkan, kalau tak mau dibilang tak dapat dipecahkan. Tak ada masalah yang dapat diselesaikan dengan tingkat kesadaran yang sama dengan tingkat kesadaran yang menghasilkan masalah itu.

Jenis kesadaran berdasarkan fungsi:

Phenomenality yaitu kesadaran seseorang menjalani sebuah pengalaman, seperti menghirup wangi bunga.

Akses Global, kesadaran aktif untuk mengakses, memahami dan menanggapi objek-objek di luar Diri.

Refleksivitas/Kesadaran Diri, kesadaran yang tertuju ke diri sendiri, mencermati diri; refleksi diri.


“Kesadaran adalah hidup kita” (John Searle)


Sartre membedakan kesadaran menjadi

Kesadaran Pra-Reflektif; dan

Kesadaran Reflektif


Kesadaran Pra-Reflektif adalah kesadaran yang langsung terarah kepada obyek perhatian tanpa direfleksikan. Kesadarn Pra-Reflektif disebut juga ‘Kesadaran yang Tak-Disadari’ sebab subyek tak sengaja memberi perhatian pada obyek dan prosesnya. Kesadaran Reflektif adalah kesadaran yang menjadikan apa yang diperoleh kesadaran menjadi tematik dalam refleksi dan pemahaman manusia. Kesadaran Reflektif adalah kesadaran yang membuat kesadaran yang membuat kesadaran yang tidak-disadari menjadi sadar atau menjadi kesadaran yang disadari.

Dalam Kesehariannya manusia didominasi oleh Kesadaran Pra-Reflektif. Pada umumnya orang mengarahkan kesadarannya pada obyek, bukan pada diri dan apa yang diperbuatnya. Dengan merefleksikan apa yang ia perbuat, manusia dapat memahami makna tindakannya dan membawanya ke pemahaman tentang dirinya.

Kesadaran Reflektif menjadikan Kesadaran Pra-Reflektif sebagai obyek. Dengan Kesadaran Reflektif, manusia menjadikan dirinya tak hanya sebagai makhluk yang larut  oleh ‘lalu-lintas’ obyek. Dengan Kesadaran Reflektifnya, manusia menyadari mengapa ia menanggapi suatu obyek dan mengabaikan yang lain. Kesadaran Reflektif memungkinkan manusia mengafirmasi atau menegasi ‘ada’ (being), mengafirmasi atau menegasi kenyataan. Dengan tidak larutnya manusia dalam aliran ‘ada’ dalam dunia, manusia terbebas dari relasi-relasi kausal. Dengan kesadaran reflektif manusia memutus kausalitas.


Referensi

Rosenthal, 2000. How Many Kinds of Consciousness


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tayangan halaman minggu lalu

Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kunang-kunang, dulu aku kecil, kau-pun juga. Sekarang aku besar, tapi kau masih tetap saja kecil. Andai ada kunang-kunang sebesar diriku, maka akan teranglah dunia.

Pengikut