Minggu, 28 April 2013

Dominasi Pemikiran Otak Kiri dalam Kognisi Barat

Plato dan Aristoteles waktu itu menghampiri kedai minumanku. “Wah kukira mereka sudah berdamai” Ujarku dalam hati. Gambaran itupun secara implisit berkeliaran di kepalaku, tepatnya bersamaan dengan nyanyian burung yang merdu seperti tak kenal bahasa makian.

“Bos, pesan es pocong dua!” Ujar Aristoteles yang matanya tak berhenti memandang sinis sang guru Plato. Aku sungguh takut, takut yang sebenarnya lebih disebabkan mimpi pocong semalam. Jujur sebenarnya aku sendiri belum pernah melihat materi yang disebut pocong. Tapi itu tak usah dibahas, lebih baik aku buatkan saja mereka es pocong, yaitu es sumsum campur kedelai, yang kupoles sedikit dengan seni (bukan air seni).

Memandang Aristoteles dan Plato, mengingatkanku pada pembedaan otak kiri dan otak kanan. Keduanya memang berlainan,  dan memandang dunia dengan cara yang tidak sama. Otak kiri yang logis rasional, asertif, dan maskulin. Karakteristiknya memandang dunia secara linier, mengorganisasi input sensoris ke dalam bentuk titik pada suatu garis, secara berurutan. Yang aku tahu otak kiri lah yang menciptakan konsep kausalitas, yaitu kesan bahwa sesuatu menyebabkan  sesuatu yang lainnya, karena ia selalu terjadi lebih dulu. Sebaliknya, otak kanan mampu memahami seluruh  pola yang ada. Dia (otak kanan) adalah cenderung menerima segalanya dengan lebih bebas, feminis, resertif, mistik, dan intuitif. Aku memandang keduanya barangkali secara lebih kasar ialah, otak kiri ‘rasional’ dan otak kanan ‘irasional’.

Sembari aku memperhatikan Plato dan Aristoteles, aku masuk lagi ke dalam renung bawah sadar. Ya, benar adanya bahwa perkembangan ilmu pengetahuan menandai permulaan dominasi pemikiran otak kiri dalam kognisi barat dan menenggelamkan pertimbangan otak kanan ke dalam status ‘bawah tanah’ (bawah sadar) sehingga tidak pernah memunculkan apa-apa (yang diakui ilmu pengetahuan). Semoga di masa depan aku bertemu dengan sesorang yang menemukan ‘alam bawah sadar’ yang dia nyatakan sebagai alam gelap, misterius, dan irrasional (seperti halnya otak kiri memandang otak kanan). Sebagaimana Lao tse memahami fenomena yang sama ribuan tahun yang lalu (yin dan yang), meskipun mereka tidak pernah mengalami pembedahan pisah-otak.

Aku bermimpi mengajak manusia mengakui kembali aspek-aspek psikis yang lama dikesampingkan dalam masyarakat rasionalistik. Untuk dapat mengagumi dan menghargai sesuatu, orang harus memahaminya dengan cara khusus, meskipun pemahaman itu mungkin tak terdeskripsikan. Pengalaman ajaib-subjektif membawa pesan bagi pemikiran rasional bahwa objek keajaiban hanya dapat diamati dan dipahami dengan cara yang yang tidak sama dengan cara rasional.

"Apalah itu rindu, lebih baik kurasakan daripada harus kupikirkan" (Winata:69)

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Tayangan laman minggu lalu

Loading...
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kunang-kunang, dulu aku kecil, kau-pun juga. Sekarang aku besar, tapi kau masih tetap saja kecil. Andai ada kunang-kunang sebesar diriku, maka akan teranglah dunia.

Pengikut