Halloo!

Perkenalkan, Saya Eko Surya Winata!

Knowledge is Power

"Tulisan ini ngawur, sama kayak yang nulis" - Ayah

Tulisan Berbahaya!

"Maksudnya apa sih ini?" - Ibu

www.twitter.com/ekoswinata

Berteman dengan Eko Surya Winata di Twitter

Salam Kenal

Menulis Adalah Kerja untuk Keabadian!

Selasa, 03 September 2013

Charlie Chaplin dan Film The Modern Times

The Modern Times
• Produksi                     : United Artists
• Durasi                         : 87 menit • Tahun Pembuatan  : 1936
• Negara                        : Amerika Serikat
• Sutradara                   : Charles Chaplin
• Produser                    : Charles Chaplin
• Penulis skenario      : Charles Chaplin
• Penata Kamera        : Rollie Totheroh, Ira Morgan
• Editor                          : Williard Nico
• Charlie Chaplin         : Pekerja Pabrik (The Tramp)
• Paulette Goddard     : Gamine (Ellen Peterson)
• Henry Bergman         : Pemilik CafĂ©
• Chester Conklin        : Montir
• Stanley Sandford     : Big Bill
• Hank Mann                : Perampok
• Stanley Blystone      : Ayah Gamine
• Al Ernest Garcia       : Presiden Electro Steel Corp.
Film ini mengisahkan semua akibat dari revolusi industri ini dengan sangat baik. Penyampaiannya pun juga ringan dan penuh humor. Meski begitu film ini sangat jelas menggambarkan situasi Amerika Serikat dimana pada kurun waktu 1930-an masih terkena imbas dari Revolusi Industri, pada saat itu di mana banyak kepala keluarga yang kehilangan pekerjaan, rela mengantri demi mendapatkan pekerjaan, rela mencuri, demo besar-besaran dari kalangan buruh, dan betapa kacau balaunya suatu sistem mesin apabila mengalami sedikit gangguan saja. Kondisi yang kian kacau akibat penggantian tenaga manusia oleh tenaga mesin ini membuat jumlah pengangguran semakin meningkat diiringi dengan jumlah kelaparan dan kejahatan. Inilah kritik keras Charlie Chaplin yang dituangkannya dalam Modern Times. Film tersebut dibuka dengan tulisan, “A story of industry, of individual enterprise—humanity crusading in the pursuit of happiness (Sebuah kisah tentang industry, tentang perusahaan individual—perang suci kemanusiaan untuk mencari kebahagiaan).
Keberadaan film Modern Times sangat menarik untuk ditelaah lebih jauh, terlebih lagi menggunakan analisa teori film marxist, karena film ini muncul di era situasi politik dan ekonomi dunia sedang tidak stabil; imbas dari revolusi industri yang juga mempengaruhi situasi politik dimana pertentangan antara kaum liberal dan komunis mulai memanas, diiringi oleh tumbuh berkembangannya faham komunis pasca revolusi Bolshevik di Russia dan menjelang menguatnya kubu-kubu imperialis fasis seperti Nazi, Jepang, fasis Italia dan fasis Inggris.
PLOT
Sebelum memasuki ranah yang lebih jauh, ada baiknya mengulas sedikit tentang alur cerita dalam film Modern Times ini. Fiilm ini merupakan salah satu film yang menyemarakan film dengan jenis komedi yang disajikan secara tragika, yang sebelumnya ada Buster Keaton yang lebih dahulu memulainya. Film Modern Times dengan cerdas menyoroti kehidupan Amerika (dan dunia) pada masa awal abad 20 yang saat itu yang masih terkena imbas dari Revolusi Industri. Sebagian film ini bersuara, namun sisanya adalah bisu namun dihiasi musik. Film ini di awali dengan aktivitas di sebuah perusahaan Electro Steel Corp. Kita akan melihat buruh-buruh yang bekerja. Kita seperti disuguhkan dengan sebuah analogi tentang manusia yang tak jauh beda dengan jenis hewan-hewan pekerja, seperti lebah, rayap atau semut, yang pada saat itu terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja.
Setelah sedikit pengenalan terhadap suatu pabrik, Electro Steel Corp. yang serba mesin, kita diperkenalkan pada seorang pekerja pabrik yang bertugas mengencangkan baut yang bernama Tramp (Charles “Charlie” Chaplin). Tramp dan para pekerja lainnya tenggelam dalam rutinitasnya dan diharuskan bekerja tanpa henti kecuali untuk makan siang. Sempat dalam sebuah adegan, Tramp diam-diam bersembunyi di toilet untuk beristirahat dan merokok, tetapi kemudian dia mendapatkan teguran dari Direktur Electro Steel Corp. lewat layar pemantau.
Secara psikologis, rutinitas pekerjaan Tramp sebagai pengencang baut tersebut mempengaruhi memori dalam otaknya. Kegiatan yang berulang-ulang tersebut mempengaruhi saraf motoriknya untuk melakukan gerakan mengencangkan baut, walau Tramp sendiri tidak dalam kondisi bekerja. Apapun yang dia temukan berbentuk baut, akan dia kencangkan dengan kunci inggrisnya.
Electro Steel Corp., perusahaan yang selalu ingin segala sesuatu yang terjadi di pabrik tersebut, baik aktifitas produksi dan hasil produksinya efesien dan terukur, mulai memikirkan agar waktu makan siang dipotong untuk menghasilkan waktu yang lebih efisien dan dapat digunakan semaksimal untuk bekerja. Kemudian datanglah beberapa salesman yang menawarkan rancangan “modern” feeding machine alias mesin pemberi makan modern. Dalam demonstrasi penggunaan “modern” feeding machine, ditunjuklah Tramp menjadi kelinci percobaan mesin tersebut yang akhirnya gagal dan menyebabkan Tramp yang telah lama memendam stress akibat rutinitasnya “meledak” dan mengacaukan seisi pabrik, salah satunya dengan masuk ke roda gerigi penggerak mesin-mesin pabrik. Hasilnya, Tramp pun dikirim ke rumah sakit jiwa.
Di luar kisah Tramp sendiri, diceritakan pula situasi masyarakat di luar rumah sakit jiwa, dimana terjadi gejolak besar dalam kehidupan masyarakat, banyak pabrik yang tutup dan pengangguran bertambah. Setelah dirawat untuk beberapa waktu dan dinyatakan sembuh, Tramp keluar dari rumah sakit jiwa. Tramp sendiri tidak menyadari bahwa sedang terjadi gejolak sosial di masyarakat, dimana sedang terjadi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh kaum buruh. Pada saat dia berjalan di sebuah sudut kota dan melihat sebuah bendera merah yang jatuh dari sebuah truk pengangkut barang, kemudian Tramp mengambil bendera tersebut, dan berusaha untuk mengejar truk tersebut. Pada saat dia mengejar truk tersebut, tanpa disadari dari belakang dirinya muncul segerombolan buruh yang tengah berdemonstrasi, sehingga terjadi kesalahpahaman, Tramp oleh polisi dituduh sebagai pemimpin demonstrasi dan akhirnya dikirim ke penjara. Di dalam penjara, Tramp mendapatkan tekanan yang sama, hidup dalam sebuah sistem yang diatur oleh kepala penjara dan para sipir. Hingga pada saat jam makan, terjadi inspeksi mendadak dari intelejen, bahwa ada seseorang yang diduga kuat sebagai pengedar kokain di penjara, dan tersangka pengedar tersebut tepat duduk di samping Tramp. Merasa terancam, si Pengedar menuangkan kokain tersebut ke dalam tempat garam. Dan kemudian tanpa sengaja Tramp memakan kokain, yang ia kira itu adalah garam. Setelah memakan kokain, ia mengigau hingga jam makan selesai dan akan kembali ke sel. Pada saat semua kembali ke sel, karena dibawah pengaruh kokain, Tramp justru tertinggal di halaman depan selnya, dan pada waktu yang bersamaan terjadi insiden dari segerombolan penjahat yang melakukan pembajakan terhadap kepala penjara dan beberapa sipir. Para penjahat tersebut ingin membebaskan seorang narapidana yang kebetulan satu kamar sel dengan Tramp. Masih dibawah pengaruh kokain, Tramp tanpa sengaja berhasil menaklukan penjahat yang berusaha melarikan diri dengan menyandera para polisi, sehingga dia dianggap sebagai pahlawan dan dibebaskan.
Suatu peristiwa yang melibatkan keluguannya malah menjadikannya pahlawan dalam penjara dan membuatnya akrab dengan para sipir penjara, hidup enak dengan segala fasilitas menyenangkan di selnya sehingga membuatnya betah.
Saat ia keluar dari penjara, pabrik tempatnya dulu bekerja telah tutup dan saat mencari kerja ia tak bisa beradaptasi sehingga banyak membuat masalah yang tak disengaja dan membuatnya tak mendapatkan pekerjaan. Ia pun memutuskan untuk kembali ke penjara karena merasa lebih nyaman. Di tempat lain, seorang gadis cantik namun melarat bernama Ellen Peterson (Paulette Goddard) yang cerdik dan berayahkan seorang pengangguran menjadi yatim piatu karena sang ayah tewas dalam suatu insiden melarikan diri dari orang pemerintah yang ingin mengambil dirinya dan adik-adiknya. Karena lapar, ia mencuri roti namun tertangkap dan bertemu Tramp di jalan yang mengaku sebagai pencurinya, namun gagal karena adanya saksi.
Ellen Peterson kemudian bertemu lagi dengan Tramp yang berulah agar ditangkap polisi di mobil patroli dan merekapun kabur. Keduanya saling jatuh cinta dan membayangkan punya rumah sendiri. Tramp pun berinisiatif untuk menyenangkan Ellen Peterson dengan bekerja sebagai penjaga malam sebuah department store dan mengadakan pesta dengan Ellen Peterson pada malamnya. Saat Ellen Peterson tidur, Tramp bertemu kawanan pencuri yang salah satunya adalah rekannya di pabrik yang terpaksa menjadi pencuri karena kelaparan. Mereka pun berpesta dan esoknya Tramp ditemukan ditumpukan kain dagangan dalam keadaan mabuk yang lagi-lagi membuatnya dikirim ke penjara.
Ellen Peterson setia menunggu dan saat Tramp keluar dari penjara sepuluh hari kemudian, Ellen Peterson memberinya kejutan dengan memberitahukan bahwa Ellen Peterson telah mendapatkan rumah, tepatnya sebuah gubuk dipinggir pelabuhan. Ellen Peterson berkata ini rumah yang mereka impikan walaupun tidak semewah istana Buckingham. Merekapun tinggal dengan penuh sukacita.
Keesokan paginya, Tramp mendapat pekerjaan di sebuah pabrik yang baru buka. Namun ketika dia sibuk mengeluarkan bos nya yang terjebak di dalam mesin, para buruh lainnya memutuskan untuk berdemonstrasi. Secara tidak sengaja Tramp membuat ulah yang menyebabkan sebuah batu bata melayang ke kepala seorang polisi, Tramp ditangkap lagi.
Dua minggu kemudian, Tramp dibebaskan. Sementara itu Ellen Peterson mendapat pekerjaan sebagai penari di sebuah cafe. Ellen Peterson berusaha memberi pekerjaan kepada Tramp sebagai seorang penyanyi. Ketika pertunjukkan, Tramp lupa dengan lirik lagu yang akan dinyanyikan dan membuat sebuah contekan yang dibuat di pergelangan tangan. Namun pada saat pertujukan, tanpa ia sadari contekan dipergelangan tangan tersebut terlepas. Namun, Tramp terselamatkan dengan improvisasinya melalui lirik jenaka dan pantomime.
Tidak lama kemudian polisi datang ingin menangkap Ellen Peterson karena menggapnya sebagai buronan kepolisian. Tetapi Ellen Peterson lolos lagi dengan dibantu oleh Tramp. Akhirnya, mereka berdua pergi meninggalkan kota tersebut dengan harapan yang lebih baik.
PENDEKATAN UMUM BERDASARKAN KONTEKS JAMAN
Aristoteles mengatakan bahwa komedi muncul karena rasa sakit. Rasa sakit dan sesuatu yang buruk tersebutlah yang patut untuk ditertawakan, bahkan terkadang kita menertawakan rasa sakit yang terjadi pada diri kita sendiri. Pilihan komedi satire (Sarkasme atau sindiran) inilah yang dipergunakan oleh Charles Chaplin dalam beberapa filmnya, terutama dalam film Modern Times untuk melakukan kritikan terhadap kapitalisme, tanggapan atas dampak revolusi industri di mana mesin – mesinlah yang memperbudak para pekerja pada masa Great Depression (jam kerja panjang dengan sedikit keselamatan bagi pekerjaan dan gaji yang sangat kecil, sedangkan kelas atas tetap kaya dan hanya menunggu hasil). Film Modern Times melawan arus di dalam Hollywood yang didominasi oleh film-film bergenre mellowdrama dan western yang sedang berkembang.
Dalam Communist Manifesto, Marx dan Engels menunjukkan bahwa akibat penggunaan mesin yang luas dan pembagian kerja, kerja proletariat telah kehilangan seluruh ciri individualitasnya, dan, sebagai akibatnya, pekerja hanya menjadi alat pembantu mesin, dan hanya paling sederhana, paling monoton, dan oleh karenanya hanya dibutuhkan ketrampilan yang paling mudah dipelajari. Oleh karena itu, biaya untuk menghasilkan seorang pekerja dibatasi, hampir seluruhnya, sampai di tingkat yang hanya cukup untuk membuatnya bertahan hidup. Tapi harga komoditi, dan demikian pula halnya dengan tenaga kerja, adalah sama dengan biaya produksinya. Maka, sebanding dengan semakin menjijikkannya pekerjaan itu, semakin turun pula tingkat upah. Lebih lagi, sebanding dengan meningkatnya penggunaan mesin dan pembagian kerja, meningkat pula beban kerja, baik melalui perpanjangan jam kerja, melalui peningkatan ragam pekerjaan yang dituntut dikerjakan dalam rentang waktu tertentu atau oleh peningkatan kecepatan kerja mesin, dan lain-lain.
Teknologi yang baru bukannya memperbaiki taraf kehidupan kaum buruh dalam industri, ia malah digunakan untuk memperburuk kondisi dari para buruh. Rasa tidak aman, tekanan yang tanpa henti atas sistem syaraf, stress yang sama, yang membawa masalah-masalah kesehatan dan depresi. Dampak yang jelas terjadi pada kondisi psikologis tokoh Tramp, dimana dia tanpa tidak terkontrol selalu melakukan hal-hal yang dia lakukan pada saat bekerja, walaupun dia dalam keadaan tidak melakukan pekerjaan itu. Dalam film Modern Times, kemiskinan dan hal-hal yang dianggap menjijikan, menjadi sesuatu yang lucu tapi tragis dan justru dengan bentuk inilah film ini berhasil menjadi film yang cukup populis di era-nya. Kehidupan masyarakat pada kelas sosial proletar telah begitu terepresi oleh sistem yang dibuat oleh kaum borjuis atau kapitalis, dan jumlah kaum proletar jauh lebih besar dari jumlah para borjuis tersebut. Hingga tingkat represi tersebut sudah menjadi hal yang kemudian dianggap sebagai konsekuensi yang harus diterima oleh kaum proletar. Sehingga nasib sial dan kemiskinan bagi mereka cukup ditanggapi dengan sesuatu hal yang menggelikan, walaupun bagi kaum proletar sendiri itu hal yang paling mengenaskan.
Bekerja dibawah tekanan dan ancaman pemutusan hubungan kerja merupakan hal yang dapat terjadi pada siapapun dan kapanpun. Bentuk pertunjukan komedi, termasuk film komedi kemudian menjadi pelarian untuk dapat dengan sejenak melepaskan kepenatan atas situasi yang kala tahun 1930-an terjadi. Bagi Charles Chaplin sendiri, kemiskinan dan nasib tidak beruntung bukan hal yang baru pada kehidupan dirinya. Pada saat kanak-kanak, kedua orang tuanya bercerai, dan dia tinggal bersama ibunya yang dikemudian hari pada saat Charles Chaplin berumur 12 tahun, ibunya menderita skizoprenia. Kemudian, Chaplin terpaksa tinggal di rumah penampungan orang miskin, bekerja untuk imbalan makan dan tempat berteduh di kawasan Lambeth, London. Setelah tinggal di sana beberapa minggu, Chaplin dimasukkan sekolah asrama penampungan anak terlantar bernama Central London District School di Hanwell. Selain situasi pabrik yang digambarkan oleh Charles Chaplin, beberapa adegan dalam film jelas menggambarkan situasi ideologi yang sedang bekerja dalam masyarakat Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 1930-an. Louis Althuser memberikan pendapat, pada tatanan ideologi yang berkembang pada masyarakat menurutnya bekerja dengan dua sisi; Represive State Apparatus, yang bersifat menekan secara langsung; Dan Ideological State Apparatus, yang bersifat menekan secara halus. Secara gamblang, Charles Chaplin memberikan bukti-bukti tentang masa film ini pada tingkat Represive State Apparatus, dimana pihak-pihak yang menghegemoni menekan pihak-pihak yang lemah pada posisi tertentu, seperti perusahaan yang merepresi para buruh yang bekerja, serta aparat hukum yang merepresi para demonstran dan tahanan. Namun dengan cara tersebut, Charles Chaplin Nampak sadar bahwa film ini merupakan sebuah kerja untuk merepresi dengan cara halus kepada penonton, terutama melalui unsur komedi, dengan mengatakan bahwa sistem yang dibuat oleh kaum kapitalis sangat tidak bersahabat, tetapi sebagai kaum proletar harus tetap optimis untuk menghadapi sistem tersebut. Hal tersebut tampak pada adegan akhir film dimana tokoh Tramp dan Ellen Peterson berjalan dengan senyumnya menuju jalan yang tampak jauh di depan mereka.
Struktur naratif dalam film ini berjalan dengan prinsip-prinsip struktur Sinema Hollywood Klasik, yaitu bekerja dengan klausalitas yang jelas. Namun, Charles Chaplin mencoba mengembangkan teori ideologi Louis Althuser dengan memecah plot awal film menjadi dua sub-plot besar, yaitu kisah Tramp dan Ellen Peterson yang pada akhirnya menjadi satu kesatuan yang berjalan pada satu plot yang sama.
PENDEKATAN LEWAT GAYA (STILISTIK) SEBAGAI PROTES ATAS JAMANNYA
Modern Times, dengan gaya tertentu Charles Chaplin memuntahkan semua kegelisahan terhadap jamannya. Tata kamera yang sederhana merupakan bentuk pilihan tepat, memberikan ruang dan waktu kepada penonton untuk mencermati setting dan properti serta kekuatan gestur tokoh Tramp yang dimainkan oleh Charles Chaplin. Baik penggunaan tata kamera dan artistik dalam film ini menggunakan pendekatan cinematic realism, dimana konvensi atas semua kode fiksi yang diterapkan pada stilistik merupakan konvensi yang terpengaruh pada era 1930-an. Semua tampak seperti realitasnya, walaupun dalam beberapa bagian film mengingatkan kita pada film-film German Expressionism, tampak pada setting yang dilebih-lebihkan pada adegan Tramp yang terjebak dalam sebuah putaran roda gerigi penggerak mesin. Tapi konvensi realisme di era 1930-an masih dipertahankan, penggunaan gaya German Expressionism ini menguatkan imaji penonton terhadap tertindasnya manusia (kaum buruh) oleh mesin-mesin yang dipergunakan kaum kapitalis sebagai akibat dari dampak revolusi industri. Teknik pengekangan yang berlebihan (Super impose Technic) digunakan dalam sebuah setting pabrik, yaitu layar monitor yang terhubung antara presiden Electro Steel Corp. ke setiap sudut bagian pabrik. Berfungsi untuk mengontrol setiap kinerja mesin dan kerja para buruh. Sebuah bentuk Represive State Apparatus yang diciptakan langsung sebagai bagian dari cerita film Modern Times, yang merupakan sindiran kasar terhadap kapitalisme yang bagi sebagian buruh dinilai cukup mengganggu. Tidak ada lagi kebebasan secara individual untuk menikmati hidup. Tak luput pula, sosok Tramp yang diciptakan oleh Charles Chaplin merupakan sinikal dari sistem kapitalisme yang sedang berkembang serta tumbuhnya semangat fasisme dibeberapa wilayah dunia. Sosok Tramp merupakan perwujudan dari kaum proletar yang mencoba untuk membunuh kelasnya sendiri. Kemiskinan yang Tramp alami, ditutup-tutupi dengan kostum yang biasa digunakan oleh kaum borjuis, berdandan rapi, dengan jas, dasi dan topi, sehingga tampak seolah-olah menjadi seorang bangsawan. Walau bagaimanapun, setiap aksi dan perilaku yang Tramp lakukan masih menampilkan sosok kaum kelas bawah. Perilaku yang kampungan dan kebodohan-kebodohan orang-orang yang tidak mengenyam pendidikan tinggi. Kumis yang menjadi ciri khas Tramp sendiri merupakan sindiran terhadap fasisme Hitler yang mulai muncul pada pertengahan tahun 1930-an. Dan akibatnya, film-film Charlie Chaplin sempat diboikot masuk ke wilayah Jerman.
Film Modern Times merupakan film pertama Charles Chaplin yang memperkenalkan secara langsung suara Charlie Chaplin. Musik pun Charles Chaplin garap sendiri, masih dengan instrumen yang serius tetapi dalam beberapa bagian memainkan pola harmoni yang bersifat komikal. Pada saat film-film dengan suara muncul, Charles Chaplin masih dengan setia untuk tidak menggunakan dialog. Karena Charles Chaplin percaya bahwa kekuatan sebuah film ada pada gambar, setting dan akting. Hanya pada beberapa bagian saja Charles Chaplin menempelkan suara dialog, yaitu pada bagian layar monitor dari presiden Electro Steel Corp. itupun dengan alasan untuk menguatkan fungsi reperesif yang dialami kaum buruh pada cerita film Modern Times.

Tayangan halaman minggu lalu

Loading...
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kunang-kunang, dulu aku kecil, kau-pun juga. Sekarang aku besar, tapi kau masih tetap saja kecil. Andai ada kunang-kunang sebesar diriku, maka akan teranglah dunia.

Pengikut