Senin, 01 Oktober 2012

Speculative Realism dan Quentin Meillasoux

Sejarah filsafat kontinental menunjukkan aliran realisme termarjinalkan, itu sebabkan 'Speculative Realism' bangkit melawan. Filsafat kontinental didasari pada paradigma: struktur pikiran dan bahasa, membuat realitas tersingkir. Paradigma struktur pikiran dan bahasa sudah muncul sejak Rene Descartes, Hume, Locke, Kant, Hegel, Husserl, Wittgenstein dan Derrida. Paradigma "Correlationism" menekankan 'Human-World Relation' tergantung pada pikiran dan bahasa. Cara pikir anti realisme disebut Quentin Meillassoux (pemuka speculative realism) sebagai paradigma "Correlationism".

Bagi Kant, pikiran hanya bisa mengetahui fenomena bukan noumena (inti) maka pengetahuan semata konstruksi pikiran atas apa yg ditangkapnya sendiri. Immanuel Kant meneguhkan dgn "Correlationism" inti realitas tak mungkin diketahui, dalam-dirinya- sendiri (Das Ding an Sigh).  'Very Strong Correlationism' Meillasoux pada thesis ini: noumena tak bisa diketahui dan dipikiran, itu tanpa makna, tapi bagaimanapun itu ada. Meillassoux membagi: Weak Corl, Strong, dan Very Strong Correlationism (Meillassoux sendiri berpegang pada yg terakhir). Bagi Kant, sekalipun inti realitas tdk bisa diketaui at least bisa dipikirkan, ini disebut Meillassoux sbg  'Weak Correlationism'. 'Anti Correlationism' Meillassoux tertuju pd kontruksi pikiran dan bahasa, sedang 'Correlationisme'-nya sendiri berdiri di atas matematika. 

Sejarah filsafat kontinental sejak descartes dibangun pada 2 fondasi ekstrim: idealisme absolut dan realisme naif. Tujuan 'meillasoux' dengan Speculative Realism tak lain ingin mengatasi 2 ekstrim idealisme absolut dengan realisme naif Idealisme absolut, noumena tidak ada kecuali pikiran/idea itu sendiri, (realitas adalah idea). Realisme naif: noumena ada dan bisa diketahui. Bisa disebut sbg ;dogmatisme filosofis. Untuk mengatasi 2 ekstrim dalam sejarah filsafat itu, Meillassoux kemukakan konsep paradox:  'Necessity of Contigency', dari kategori Kant. Karena menolak bahasa dan kembali pd plato: filsafat sbg paradigma matematik, Meillassoux menggunakan matematik sebagai jiwa spekulatifnya. Apa yang real bagi meillassoux juga tidak sertamerta sesuai dengan ilmu-ilmu alam memperlakukan nature sbg yg real dengan hukum kausalitasnya. Alam bagi Meillassoux juga tak lepas dari konsep kontingensi, seolah-olah, tak berhenti pada prosedur hukum kausalitas. Matematika juga bersifat kontingen, tak terprosedurkan, Infinite. Jadi hanya kontingensi yg bersifat niscaya. (paradoks). Jika yang niscaya itu keseolahan itu sendiri samahalnya pikiran Meillassoux dgn filsuf Inggris Whitehead, yg pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.

Pada Speculative Realism kita bisa membaca bahwa filsafat harus terus ke depan, memangkas Absolutisme dan Dogmatisme. Jika Matematika Spekulatif dipegang Meillassoux lalu bgmn hal itu bisa berhadapan dgn yang real?. Sayangnya seperti yg disintil temannya sendiri Graham Harman, Meillasoux tak bisa pisahkan matematika praktis dan spekulatif. Jika maksudnya matematika harus menspekulasikan realitas maka "Speculitve Realism" kembali pada modus "Dialektika Materialisme". Cara berpikir speculative realism tak memberikan radikalisme filosofis yang baru, pada semangatnya Anti Absolutisme/Dogmatisme jelas tidak. Pandangan Speculative Realism atas bahasa masih 'culun' belom paradigmatis, menjeneralisasikan bahasa semaunya. Jika pun Speculative Realism mau hidupkan lagi yg real, maka ia akan segera tenggelam ol prinsip Husserl "kembali pd benda itu sendiri" Banyak sekali pemikiran filsafat yang memberikan suntikan baru tapi tidak cukup membuat filsafat itu meradang-terjang.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Tayangan halaman minggu lalu

Loading...
Diberdayakan oleh Blogger.

Mengenai Saya

Foto saya
Kunang-kunang, dulu aku kecil, kau-pun juga. Sekarang aku besar, tapi kau masih tetap saja kecil. Andai ada kunang-kunang sebesar diriku, maka akan teranglah dunia.

Pengikut